|
Anak Menteng jadi Calon Presiden AS |
“Saya akan menjadi presiden Amerika berkulit hitam pertama.”
Mimpi Obama menjadi presiden AS dimulai sejak bangku sekolah. Impian itu kini semakin dekat setelah dirinya mengalahkan Hillary Clinton dalam pemilihan calon presiden Partai Demokrat.
Nama Obama makin kian berkibar. Meski belum menjadi presiden, kepopulerannya melebihi presiden berkuasa saat ini, George W. Bush. Apalagi di Indonesia, nama Obama layaknya Amien Rais di era reformasi 1998. Dibicarakan orang dimana saja, diulas panjang dalam tulisan khusus di media termasuk talk show radio dan televisi .
Gang Sempit di Pojok Menteng
Pemilihan Presiden Amerika selalu memiliki daya tarik tersendiri, seluruh dunia akan menunggu siapa yang menjadi presiden di negara adidaya tersebut. Namun berbeda dari pemilihan presiden AS sebelumnya. Nama Indonesia sering disebut-sebut di sejumlah media massa Amerika.
Penyebabnya jelas, Obama pernah menetap di Indonesia. Budaya pemilihan presiden di Amerika adalah mengupas habis setiap calon yang maju menjadi presiden. Bagi warga Amerika, masa lalu adalah cermin dari tindakan di masa kini dan yang akan datang. Sehingga track record calon presiden benar-benar menjadi penting untuk di pertimbangkan.
Khusus untuk kehidupan Obama, buku setebal 155 halaman ini, menggambarkan secara utuh, sosok Obama saat masih kanak-kanak hingga kuliah di kampus terkemuka Harvard University serta sisi lain dari Obama.
Digambarkan bahwa Barrack Husein Obama pernah menetap di Indonesia tahun 1967 dan tinggal di sebuah gang sempit kawasan Menteng Dalam di Jl. KH Ramli Tengah 16, Rt 011/16, Jakarta Pusat. Obama saat itu bernama Barry Soetoro yang dating bersama keluarganya dari negeri Paman Sam. Ayah Obama bernama Lolo Soetoro berdarah asli Indonesia sedangkan ibunya Ann Dunham, asli warga Amerika.
Obama sendiri sebenarnya keturunan Afrika Amerika. Ayah kandungnya Barack Husein Obama adalah seorang muslim dari Kenya. Ayahnya bercerai dengan ibunya, Ann Dunham. Kemudian menikah lagi dengan mahasiswa Indonesia bernama Lolo Soetoro. Perkawinan inilah yang membawa Obama ke Jakarta.
Meski hanya empat tahun di Jakarta, kenangan masa kecil di Indonesia begitu membekas dalam diri Obama. Hal ini terungkap dalam pernyataan Obama di salah satu Koran terkemuka Amerika.
“Kami tidak punya uang masuk sekolah internasional. Saya masuk sekolah loKal dan bermain dengan anak-anak petani, nelayan, penjahit, dan juru tulis,” kenang Obama.
Sewaktu tinggal di Jakarta, Ayah Obama, bekerja di Dinas Topografi TNI Angkatan Darat. Sang ayah mendaftarkan Obama ke SD Fransiscus Asisi yang berada di belakang rumahnya. Dua tahun kemudian Obama pindah ke SD Percobaan 04, Besuki, Menteng.
Buku karangan mantan wartawan Republika ini juga menggambarkan pendapat serta komentar dari warga Amerika mengenai sosok Obama dari berbagai media di Amerika. Termasuk soal kedekatan Obama dengan Islam meskipun saat ini dia beragama Kristen serta sikap Obama mengenai Irak dan terorisme.
Bagi mereka yang belum mengenal Obama, buku ini sangat pas sebagai pengenalan pertama untuk calon presiden AS tersebut. Karena penulisnya adalah wartawan senior, bahasa yang dugunakan juga sangat cair dan mudah dipahami. Buku ini enak dibaca namun sayang buku ini subyektif hanya menggambarkan kelebihan Obama tanpa melihat sisi ‘lain’ dari sosok Barack Obama. Kelemahan buku ini juga tidak dihiasi dengan foto-foto masa kecil Obama dan sepak terjangnya di kampus sehingga terasa kurang lengkap. Namun secara umum, buku ini mutlak harus Anda baca.
|